Minggu, 14 September 2008

STRES

Pengertian stres

Stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap stresor psikososial seperti tekanan mental atau beban kehidupan. Stres disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian.

Stres juga merupakan segala masalah tuntutan penyesuaian diri , dan karena itu, sesuatu yang mengganggu keseimbangan kita. Semua kejadian yang ada dialam kehidupan ini baik yang positif maupun yang negatif bisa menyebabkan stres. Sebagai contoh ; kenaikan pangkat merupakan perubahan yang positif namun tanggung jawab yang baru menyebabkan stres. Tidak semua stres bersifat merusak. Karena rangsangan, tantangan dan perubahan akan memberikan keuntungan bagi kehidupan seseorang misalnya orang akan menemukan sebuah koping baru dalam menghaapi suatu masalah dan jika menemukan masalah yang sama akan mudah mengatasinya.

Tipe Kepribadian stres

Manusia mempunyai dua tipe kepribadian yaitu tipe kepribadian “ A “ dan tipe kepribadian “ B “.Dalam kaitannya dengan tipe kepribadian yang berisiko tinggi terkena stres yaitu tipe “ A “ ( thype “ A “ Behavior Pattern ). Ciri – ciri dari tipe “ A “ ini yaitu

· Ambisius, agresif dan kompetitif ( suka akan persaingan ), banyak jabatan rangkap.

· Kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah ( emosional )

· Kewaspadaan berlebihan, kontrol diri kuat, percaya diri berlebihan ( offer confidence )

· Cara bicara cepat, bertindak serba cepat, hiperaktif, tidak dapat diam

· Bekerja tidak mengenal waktu

Sedangkan orang dengan kepribadian tipe “ B “( thype “ B “ Behavior Pattern ) adalah kebalikan dari tipe “ A “ tersebut diatas yaitu dengan ciri – ciri antara lain sebagai berikut :

· Ambisinya wajar – wajar saja, tidak agresif dan sehat dalam berkompetisi serta tidak memaksa diri

· Penyabar, tenang, tidak mudah tersinggung dan tidak mudah marah ( emosi terkendali )

· Kewaspadaan dalam batas yang wajardemikian pula kontrol diri dan percaya diri tidak berlebihan

· Cara bicara tidak tergesa – gesa, bertindak pada saat yang tepat, perilaku tidak hiperaktif

· Dapat mengatur waktu dalam bekerja

Sumber Stres Psikologis

Ada empat sumber atau penyebab stres psikologis, yaitu :

· Frustasi

Tibul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral melintang. Frustasi ada yang bersifat intrinsik ( cacat badan dan kegagalan usaha ) dan ekstrinsik ( kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain – lain ).

· Konflik

Timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya approach – approach conflict, approach – avoidance conflict, atau avoidance – avoidance conflict.

· Tekanan

Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari – hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita – cita atau norma yang terlalu tinggi. Tekanan yang berasal dari luar diri individu.

· Krisis

Krisis yaitu keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stres pada individu. Keadaan stres dapat terjadi beberapa sebab sekaligus, misalnya : frustasi, konflik, dan tekanan.

Tahapan Stres

Gejala – gejal stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari – hari baik dirumah, ditempat kerja ataupun di pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Van Amberg ( 1979 ) dalam penelitiannya membagi tahapan – tahapan stres sebagai berikut :

Stres Tahapan I

Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan – perasaan sebagai berikut :

1. Semangat dalam segala hal , berlebihan ( over acting )

2. Penglihatan “ tajam “ tidak sebagaimana biasanya

3. Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan

4. Merasa senang dengan pekerjaannya itu dan semakin bertambah semangat.

Stres Tahapan II

Dalam tahap ini dampak stres yang semula menyenangkan mulai menghilang dan timbul keluhan – keluahan seperti merasa letih sewaktu bangun pagi, berdebar – debar jantungnya, tidak bisa santai, otot punggung dan tekak terasa tegang, sering mengeluh perut dan lambung tidak nyaman.

Stres Tahapan III

Bila seseorang itu tetap tidak menghiraukan keluhan – keluhannya maka keluhan – keluhannya semakin nyata dan mengganggu misalnya maag, diare, insomnia, ketegangan otot semakin terasa, koordinasi tubuh terganggu.

Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi

Stres Tahapan IV

Tidak jarang seseorang pada waktu memeriksakan diri ke dokter sehubngan dengan keluhan – keluhannya. Bila yang bersangkutan tetap memaksa diri untuk bekerja terus tanpa istirahat maka akan muncul gejala daya konsentrasi dan daya ingat menurun, gangguan pola tidur dengan mimpi yang menegangkan. Seringkali menolak ajakan ( negativisme ) karena tiada semangat dan kegairahan, aktivitas yang semula menyenangkan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit.

Stres Tahapan V

Bila keadaan stres berlanjut maka akan terjadi kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam. Ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan sehari – hari yang ringan dan sederhana, gangguan pencernaan semakin berat, timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin berat, timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.

Stres Tahapan VI

Tahap ini merupakan tahapan klimaks, seorang mengalami panik dan perasaan takut mati. Gambaran stres tahap ini adalah debaran jantung teramat keras, susah bernafas, sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran, pingsan atau kollaps.

Reaksi Tubuh Terhadap Stres

Sebagaimana telah disebutkan diatas stres merupakan respon tubuh terhadap stressor psikososial ( tekanan mental atau beban kehidupan ). Biasanya jika terjadi stres yang berat terjadi faal atau gangguan fungsional dari organ tubuh seseorang yang sedang mengalami stres. Keluhan – keuhan fisik itu dapat mempengaruhi kondisi mental – emosional seseorang misalnya menjadi pemarah, pemurung, pencemas dan lain sebagainya.

Cara Mengendalikan stres

Kiat untuk mengendalikan stres menurut Grant Brecht ( 2000 ) sebagai berikut

1. Sikap, keyakinan dan pikiran kita harus positif, fleksibel, rasional dan adaptif terhadap orang lain. Artinya, jangan terlebih dahulu menyalahkan orang lain sebelum introspeksi diri dengan pengendalian internal.

2. Kendalikan faktor – faktor penyebab stres dengan jalan :

3. Perhatikan diri anda, proses intrepersonal dan interaktif, serta lingkungan anda.

4. Kembangkan sikap efisien.

5. Relaksasi

6. Visualisasi ( angan – angan terarah ).

Teknik singkat untuk menghilangkan stres, misalnya melakukan pernafasan dalam, mandi santai dalam bak, tertawa, pijat, membaca, melakukan yang disukai secara teratur, istirahat teratur dan ngobrol.

Obat yang sering diberikan pada pasien gangguan jiwa


  1. Clorpromazine ( CPZ, Largactile )

Indikasi untuk mensupresi gejala – gejala psikosa : agitasi, ansietas, ketegangan, kebingungan, insomnia, halusinasi, waham, dan gejala – gejala lain yang biasanya terdapat pada penderita skizofrenia, manik depresi, gangguan personalitas, psikosa involution, psikosa masa kecil. Cara pemberian untuk kasus psikosa dapat diberikan per oral atau suntikan intramuskuler. Dosis permulaan adalah 25 – 100 mg dan diikuti peningkatan dosis hingga mencapai 300 mg perhari. Dosis ini dipertahankan selama satu minggu. Pemberian dapat dilakukan satu kali pada malam hari atau dapat diberikan tiga kali sehari. Bila gejala psikosa belum hilang, dosis dapat dinaikkan secara perlahan – lahan sampai 600 – 900 mg perhari. Kontra indikasi sebaiknya tidak diberikan kepada klien dengan keadaan koma, keracunan alkohol, barbiturat, atau narkotika, dan penderita yang hipersensitif terhadap derifat fenothiazine. Efek samping yang sering terjadi misalnya lesu dan mengantuk, hipotensi orthostatik, mulut kering, hidung tersumbat, konstipasi, amenore pada wanita, hiperpireksia atau hipopireksia, gejala ekstrapiramida. Intoksikasinya untuk penderita non psikosa dengan dosis yang tinggi menyebabkan gejala penurunan kesadaran karena depresi susunan syaraf pusat, hipotensi,ekstrapiramidal, agitasi, konvulsi, dan perubahan gambaran irama EKG. Pada penderita psikosa jarang sekali menimbulkan intoksikasi.

  1. Haloperidol ( Haldol, Serenace )

Indikasinya yaitu manifestasi dari gangguan psikotik, sindroma gilies de la tourette pada anak – anak dan dewasa maupun pada gangguan perilaku yang berat pada anak – anak. Dosis oral untuk dewasa 1 – 6 mg sehari yang terbagi menjadi 6 – 15 mg untuk keadaan berat. Dosis parenteral untuk dewasa 2 -5 mg intramuskuler setiap 1 – 8 jam, tergantung kebutuhan. Kontra indikasinya depresi sistem syaraf pusat atau keadaan koma, penyakit parkinson, hipersensitif terhadap haloperidol. Efek samping yang sering adalah mengantuk, kaku, tremor, lesu, letih, gelisah, gejala ekstrapiramidal atau pseudoparkinson. Efek samping yang jarang adalah nausea, diare, kostipasi, hipersalivasi, hipotensi, gejala gangguan otonomik. Efek samping yang sangat jarang yaitu alergi, reaksi hematologis. Intoksikasinya adalah bila klien memakai dalam dosis melebihi dosis terapeutik dapat timbul kelemahan otot atau kekakuan, tremor, hipotensi, sedasi, koma, depresi pernapasan.

  1. Trihexiphenidyl ( THP, Artane, Tremin )

Indikasinya untuk penatalaksanaan manifestasi psikosa khususnya gejala skizofrenia. Dosis dan cara pemberian untuk dosis awal sebaiknya rendah ( 12,5 mg ) diberikan tiap 2 minggu. Bila efek samping ringan, dosis ditingkatkan 25 mg dan interval pemberian diperpanjang 3 – 6 mg setiap kali suntikan, tergantung dari respon klien. Bila pemberian melebihi 50 mg sekali suntikan sebaiknya peningkatan perlahan – lahan. Kontra indikasinya pada depresi susunan syaraf pusat yang hebat, hipersensitif terhadap fluphenazine atau ada riwayat sensitif terhadap phenotiazine. Intoksikasibiasanya terjadi gejala – gejala sesuai dengan efek samping yang hebat. Pengobatan over dosis ; hentikan obat berikan terapi simtomatis dan suportif, atasi hipotensi dengan levarteronol hindari menggunakan ephineprine.

MENSTRUASI

A. Pengertian menstruasi

Menstruasi adalah perdarahan vagina secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus. Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus, hipofisis dan ovarium dengan perubahan – perubahan terkait pada jaringan sasaran pada saluran reproduksi normal, ovarium memainkan peranan penting dalam proses ini karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan – perubahan siklik maupun lama siklus menstruasi ( greenspan et al., 1998 ).

B. Siklus menstruasi

Sebagian wanita pertengahan usia reproduktif , perdarahan menstruasi terjadi setiap 25 – 35 hari dengan median panjang siklus adalah 28 hari. Siklus reproduksi wanita dibagi menjadi dua siklus yaitu siklus ovarium dan siklus endometrium.

Siklus ovarium, terjadi pematangan ovum, permulaan matang hari pertama menstruasi dan berakhir hari 14. pada siklus ini ada fase ovalatoir yaitu ketika mendekati pertengahan siklus 28 hari kira – kira 2 hari sebelum ovulasi hormon LH meningkat dan FSH meningkat tetapi sedikit. Peningkatan yang tiba – tiba dari FSH dan LH menyebabkan produksi estrogen oleh folikel agak menurun dan fungsi progesteron meningkat sehingga hal ini menstimulasi pematangan folikel dan melepasnya ovum. Ovulasi menandai permulaan siklus reproduksi wanita dan terjadi kira – kira 14 hari sebelum periode menstruasi berikutnya.

Siklus endometrium ada 3 tahap yaitu tahap proliferasi, tahap sekresi dan tahap menstruasi. Pada tahap proliferasi terjadi pematangan ovum dan dilepaskannya pada pertengahan awal siklus ovarium. Ketika tahap ovulasi kelenjar endometrium mensekresi ovula ( lendir yang bentuknya berserabut tipis yang membantu masuknya sperma ke dalam uterus ). Tahap sekresi terjadi ketika uterus disiapkan untuk menerima ovum yang telah dibuahi endometrium terus menebal dibawah pengaruh estrogen dan progesteron dimana penebalan terjadi sampai 6 mm. Pembuluh darah dan kelenjar – kelenjar didalam endometrium menjadi berliku – liku dan berdilatasi. Progesteron menyebabkan endometrium tebal mensekresi bahan untuk makanan ovum yang telah dibuahi ( protein, lemak, glikogen, mineral yang disimpan didalam endometrium menunggu kedatangan ovum). Tahap yang terakhir yaitu tahap menstruasi, jika fertilisasi / pembuahan tidak terjadi maka produksi estrogen dan progesteron menurun kira – kira dua hari sebelum menstruasi terjadi spasme pembuluh darah endometrium yang menyebabkan terjadinya ischemia pada endometrium. Pada endometrium yang ischemia akhirnya mengupas sehingga yang terjadi disebut menstruasi. Dalam menstruasi kira – kira wanita kehilangan darah ± 40 cc sehingga sering terjadi anemi jika kurang mengkonsumsi zat besi.

C. Aspek hormonal selama siklus menstruasi

Siklus reproduksi wanita melibatkan berbagai organ, yaitu uterus, ovarium, vagina, dan mammae yang berlangsung dalam waktu tertentu atau adanya sinkronisasi, maka hal ini dimungkinkan adanya pengaturan, koordinasi yang disebut hormon. Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, yang langsung dialirkan dalam peredaran darah dan mempengaruhi organ tertentu yang disebut organ target (Syahrum et al., 1994). Hormon-hormon yang berhubungan dengan siklus menstruasi ialah ;

1. Hormon-hormon yang dihasilkan gonadotropin hipofisis :

a) Luteinizing Hormon (LH)

LH merupakan glikoprotein yang dihasilkan oleh sel-sel asidofilik (afinitas terhadap asam), bersama dengan FSH berfungsi mematangkan folikel dan sel telur, serta merangsang terjadinya ovulasi. Folikel yang melepaskan ovum selama ovulasi disebut korpus rubrum yang disusun oleh sel-sel lutein dan disebut korpus luteum (Greenspan et. al., 1998; Syahrum et. al., 1994).

b) Folikel Stimulating Hormon (FSH)

FSH merupakan glikoprotein yang dihasilkan oleh sel-sel basofilik (afinitas terhadap basa). Hormon ini mempengaruhi ovarium sehingga dapat berkembang dan berfungsi pada saat pubertas. FSH mengembangkan folikel primer yang mengandung oosit primer dan keadaan padat (solid) tersebut menjadi folikel yang menghasilkan estrogen (Greenspan et. al., 1998; Syahrum et. al., 1994).

c) Prolaktin Releasing Hormon (PRH)

Berbeda dengan LH dan FSH, prolaktin terdiri dari satu rantai peptida dengan 198 asam amino, dan sama sekali tidak mengandung karbohidrat. Secara pilogenetis, prolaktin adalah suatu hormon yang sangat tua serta memiliki susunan yang sama dengan hormon pertumbuhan (Growth hormone, Somatogotropic hormone, TSH, Somatotropin). Secara sinergis dengan estradia, prolaktin mempengaruhi payudara dan laktasi, serta berperan pada pembentukan dan fungsi korpus luteum (Syahrum et. al., 1994).

2. Steroid ovarium

Ovarium menghasilkan progestrin, androgen, dan estrogen. Banyak dari steroid yang dihasilkan ini juga disekresi oleh kelenjar adrenal atau dapat dibentuk di jaringan perifer melalui pengubahan prekursor-prekursor steroid lain; konsekuensinya, kadar plasma dari hormon-hormon ini tidak dapat langsung mencerminkan aktivitas steroidogenik dari ovarium.

a) Estrogen

Fase pubertas terjadi perkembangan sifat seks sekunder. Kemudian juga terjadi perkembangan sifat seks sekunder. Selanjutnya akan berlangsung siklus pada uterus, vagina dan kelenjar mammae. Hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen. Terhadap uterus, hormon estrogen menyebabkan endometrium mengalami proliferasi, yaitu lapisan endometrium berkembang dan menjadi lebih tebal. Hal ini diikuti dengan lebih banyak kelenjar-kelenjar, pembuluh darah arteri maupun vena. Hormon estrogen dihasilkan oleh teka interna folikel. Estradiol (E2) merupakan produk yang paling penting yang disekresi oleh ovarium karena memiliki potensi biologik dan efek fisiologik yang beragam terhadap jaringan perifer sasaran. Peninggian kadar estradiol plasma berkorelasi erat dengan peningkatan ukuran folikel pra-ovulasi. Setelah lonjakan LH, kadar estradiol serum akan mencapai kadar terendah selama beberapa hari dan terjadi peningkatan kedua kadar estradiol plasma yang akan mencapai puncaknya pada pertengahan fase luteal, yang akan mencerminkankan sekresi estrogen oleh korpus luteum. Studi kateterisasi telah menunjukkan bahwa peningkatan kadar estradiol plasma pada fase pra-evolusi dan pertengahan fase lueal dari siklus. Prinsipnya mencerminkan sekresi dari ovarium yang mengandung folikel dominan atau pra-ovulasi, yang kelak akan menjadi korpus luteum (Greenspan et. al., 1998; Syahrum et. al., 1994).

b) Progesteron

Kadar progesteron adalah rendah selama fase folikuler, kurang dari 1 ng/ml (3,8 nmol/l) dan kadar progesteron akan mencapai plateau yaitu antara 10-20 ng/ ml (32-64 nmol) pada pertengahan fase luteal. Selama fase luteal, hampir semua progesteron dalam sirkulasi merupakan hasil sekresi langsung korpus luteum. Pengukuran kadar progesteron plasma banyak dimanfaatkan untuk memantau ovulasi. Kadar progesteron di atas 4-5 ng/ml (12,7-15.9 nmol/l) mengisyaratkan bahwa ovulasi telah terjadi. Perkembangan uterus yang sudah dipengaruhi hormon estrogen selanjutnya dipengaruhi progesteron yang dihasilkan korpus luteum menjadi stadium sekresi, yang mempersiapkan endometrium mencapai optimal. Kelenjar mensekresi zat yang berguna untuk makanan dan proteksi terhadap embrio yang akan berimplantasi. Pembuluh darah akan menjadi lebih panjang dan lebar (Greenspan et. al., 1998).

c) Androgen

Androgen merupakan hormon steroid dengan 19 atom C dan yang termasuk androgen yaitu : testosteron, DTH, 17 ketosteroid DHEA, dihidroeplandrosteron, juga termasuk golongan ini tetapi khasiat androgennya lemah. Androgen merangsang pertumbuhan rambut di daerah aksila dan pubes serta mampu meningkatkan libido. Androgen terbentuk selama sintesis steroid di ovarium dan adrenal, sebagai pembakal estrogen. Androgen pada wanita dapat berakibat maskulinisasi, maka pembentukan yang berlebih akan menyebabkan gangguan yang berarti. Fase folikuler dan fase luteal kadar rata-rata testosteron plasma berkisar antara 0,2 ng/mg-0,4ng/mg (0,69-1,39 nmol/l) dan sedikit meningkat pada fase pra-ovulasi (Jacoeb et. al., 1994).

D. Gangguan – gangguan yang menyertai menstruasi

Gangguan-gangguan yang menyertai menstruasi

Terdapat dua klasifikasi besar gangguan yang menyertai siklus menstruasi, yaitu :

1) Gangguan atau gejala-gejala yang menyertai siklus menstruasi normal :

a) Sindroma Pre-Menstruasi (PMS)

Sindrom Pre Menstruasi didefinisikan Magos : “Gejala fisik, psikologis dan perilaku yang menyusahkan yang tidak disebabkan oleh penyakit organik, yang secara teratur berulang selama fase siklus yang banyak mengalami regresi atau menghilang selama waktu haid yang tersisa.”

Shreeve (1983) mendefinisikan sindroma pre-menstruasi sebagai sejumlah perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari ke-2 sampai hari ke-14 sebelum menstruasi dan mereda segera setelah menstruasi berawal.

Banyak sekali keluhan yang dirasakan para penderita sindroma pre-menstruasi antara lain pembesaran di daerah perut, pembengkakan di pergelangan kaki dan jaringan, kenaikan berat badan, kaki terasa berat, payudara mengeras dan sakit, kaki terasa lemah untuk berjalan, perut sakit dan kejang seperti dismenorea spasmodik, produksi urin berkurang serta timbul gangguan-gangguan pada kulit seperti jerawat, bisul, kepucatan, nafsu makan dan tidur terganggu (Shreeve, 1983).

b) Dismenorea

Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan, karena gangguan ini sifatnya subyektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai.

2) Gangguan fungsi menstruasi dan ovarium abnormal

Fungsi endokrin ovarium yang abnormal dapat bermanifestasi sebagai (1) bukti sekresi estrogen yang tidak sesuai (Misalnya pubertas prekoks), (2) sekresi estrogen yang berkurang (misalnya pubertas tertunda), (3) gangguan atau perubahan siklus menstruasi pada wanita dewasa, (4) bukti-bukti produksi androgen yang berlebihan. Penekanan terutama akan diberikan pada gangguan-gangguan yang terjadi pada wanita dewasa pasca pubertas, oleh karena merupakan gangguan yang sering ditemukan.

GANGGUAN JIWA

  1. Halusinasi

Halusinasi yaitu gangguan persepsi panca indra tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem pengindraan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh atau baik (Maramis, 1998).

Halusinasi adalah pengindraan tanpa sumber rangsang eksternal (Harrold I.Kaplan, 1998)

  1. Ilusi

Ilusi adalah penafsiran atau interpretasi yang keliru mengenai suatu pengalaman (Maramis, 1998).

Ilusi yaitu salah terjemahan daya tanggap orang terhadap satu rangsang dari luar yang memang ada (Harrold I.Kaplan, 1998).

  1. Kepribadian skizoid

Menurut Maramis (1998) gangguan kepribadian schizoid adalah gangguan proses berpikir, serta disharmoni antara proses berfikir, emosi kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan karena waham.

Gangguan kepribadian schizoid adalah pengabaian hubungan interpersonal dan ketidakmampuan untuk mengalami berbagai emosi yang normal (Linda Carman Copel, 2007).

Gangguan kepribadian schizoid yaitu pola pervasif keterpisahan dari hubungan social dan rentang ekspresi emosi yang terbatas dalam lingkungan interpersonal, dimulai pada masa dewasa awal dan ada dalam berbagai konteks (Gail W. Stuart, 2006).

Seseorang yang berkepribadian skizoid menunjukkan gejala–gejala sebagai berikut :

a. Terdapat ciri emosional yang dingin dan tidak acuh serta tidak terdapat perasaan hangat atau lembut terhadap orang lain

b. Sikap yang acuh–tak acuh (indifferent) terhadap pujian, kritikan, atau perasaan oarang lain, tidak menghargai orang lain.

c. Hubungan dekat hanya satu atau dua orang saja termasuk anggota keluarganya, tidak mampu bersosialisasi.

d. Tidak terdapat pembicaraan, perilaku atau pikiran yang aneh (eksentrik), yang merupakan ciri khas kepribadian skizotipal.

  1. Kepribadian paranoid

Gangguan kepribadian paranoid adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai perasaan curiga yang tidak beralasan pada orang lain (Maramis,1998).

Gangguan kepribadian paranoid adalah ketidakpercayaan dan kecurigaaan yang sangat besar kepada orang lain (Linda Carman Copel, 2007).

Gangguan kepribadian paranoid yaitu ketidakpercayaan dan kecurigaan pervasife terhadap orang lain bahwa motif mereka diinterpresetasikan sebagai perasaan iri, dimulai pada masa dewasa awal dan ada dalam berbagai konteks (Gail W. Stuart, 2006).

Seseorang yang berkepribadian paranoid menunjukkan gejala – gejala sebagai berikut :

a. Kecurigaan dan ketidak percayaan yang pervasif dan tidak beralasan bagi orang lain, seperti yang ditunjukkan sekurang–kurangnya 3 dari 8 hal berikut ini :

1. Merasa akan ditipu atau dirugikan, berprasangka buruk dan sukar untuk bisa percaya terhadap maksud baik dari orang lain.

2. Kewaspadaan yang berlebihan, yang bermanifestasi sebagai usaha meneliti secara terus–menerus terhadap tanda–tanda ancaman dari lingkungannya atau mengadakan tindakan pencegahan yang sebenarnya tidak perlu.

3. Sikap berjaga–jaga atau menutup–nutupi, melakukan pengamanan fisik dan tempat tinggalnya.

4. Tidak mau menerima kritik atau kesalahan , walaupun ada buktinya. Alam perasaan (Afek) sensitif, reaktif dan mudah tersinggung.

5. Meragukan kesetiaan orang lain, selalu curiga akan dikhianati dan karenanya sukar mendapatkan kawan ataupun pasangan.

6. Secara intensif dan picik mencari kesalahan–kesalahan dan bukti tentang prasangkanya, tanpa melihat secara keseluruhan dari konteks yang ada.

7. Perhatian yang berlebih terhadap motif–motif tersembunyi dan arti–arti khusus; penuh kecurigaan terhadap peristiwa atau kejadian disekitarnya yang diartikan salah dan dianggap ditujukan pada dirinya.

8. Cemburu yang patologik, tidak beralasan dan tidak rasional, dengan dalih yang dicari–cari untuk pembenaran dari rasa pembenarannya itu.

b. Hipersensitivitas, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang–kurangnya 2 dari 4 hal berikut ini :

1. Kecenderungan untuk mudah merasa dihina atau diremehkan dan cepat mengambil sikap menyerang (offensive)

2. Membesar–besarkan kesulitan yang kecil, tidak proporsional dan mendramatisasi seolah–olah sedang menghadapi kesulitan atau ancaman yang khusus.

3. Siap mengadakan balasan apabila nyawanya terancam, serangan balik yang tidak pada tempatnya.

4. Tidak dapat santai, tidak senang, selalu gelisah, dan tegang karena tidak ada rasa aman dan terlindung (security feeling).

c. Keterbatasan kehidupan alam perasaan (afektif) seperti yang ditunjukkan oleh sekurang–kurangnya 2 dari 4 hal berikut ini :

1. Penampakan yang dingin dan tanpa emosi, ekspresi wajah kosong, “ tidak hidup “ bagaikan “ topeng “

2. Merasa bangga bahwa dirinya selalu obyektif, rasional dan tidak mudah terangsang secara emosional, subyektifitas tinggi.

3. Tidak ada rasa humor yang wajar terkesan “ serius “ tidak suka bercanda, tidak ada sense of humor.

4. Tidak ada kehangatan emosional, lembut dan sentimental, seolah-olah tidak mempunyai perasaan, hambar dan tidak bereaksi terhadap rangsangan atau hal yang bagi orang lain sesuatu yang membuat lucu dan gembira.

5. Kepribadian anti sosial

Gangguan kepribadian anti social adalah suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (Maramis,1998).

Gangguan kepribadian anti social yaitu pola pervasive mengabaikan dan melanggar hak orang lain yang terjadi sejak usia 15 tahun (Gail W. Stuart, 2006).

Gangguan kepribadian anti sosial adalah perilaku tidak bertanggung jawab dan asosial, termasuk tidak menghargai hak–hak orang lain (Linda Carman Copel, 2007). Untuk dapat didiagnosis dengan kepribadian anti social klien minimal berusia 18 tahun dan memiliki riwayat gangguan tingkah laku sebelum usia 15 tahun.

Orang yang memiliki gangguan anti social memiliki gejala sebagai berikut ;

a. Beberapa jenis perilaku yang khas selama kanak–kanak adalah membolos, mencuri, vandalisme, minggat, penyalahgunaan zat, berkelahi, penggunaan senjata, membakar rumah, kejam dan brutal kepada manusia dan hewan, dan agresi seksual.

b. Orang dewasa yang memiliki gangguan kepribadian anti social memiliki sifat mudah tersinggung, agresif dan sembrono serta mncari kepuasan dengan segera. Mereka bertindak dengan menganiaya orang lain, mencuri, menghancurkan barang – barang rumah tangga, berhutang dan melakukan tindakan criminal.

6. Siklotimik

Gangguan afektif bipolar atau siklotimik (Bipolar affective illness or cyclothymic disorder) adalah adanya perubahan alam perasaan berupa mania atau hipomania (www.tinjauanpustaka. com, 26 februari 2008 ).

Siklotimik adalah suatu riwayat hipomania selama 2 tahun pada individu yang mengalami berbagai periode alam perasaan yang meningkat, bersemangat, atau mudah terganggu secara abnormal (Gail W. Stuart, 2006).

Siklotimik yaitu gangguan alam perasaan kronik paling kurang selama periode 2 tahun yang dicirikan dengan banyak episode gejala depresif dan gejala hipomanik (Linda Carman Copel, 2007).

7. Kepribadian hysteria

Gangguan kepribadian hysteria adalah Istilah popular atau umum untuk ledakan emosi yang tidak terkendali (Maramis,1998).

Gangguan kepribadian hysteria yaitu pola pervasive emosi yang berlebihan dan mencari perhatian ; dimulai pada masa dewasa awal dan ada dalam berbagai konteks (Gail W. Stuart, 2006).

Gangguan kepribadian hysteria adalah perilaku mencari perhatian yang sangat dramatis yang dimulai pada awal usia dewasa (Linda Carman Copel, 2007).

Penderita gangguan ini memiliki dorongan kebutuhan untuk menjadi pusat

perhatian dan menjadi tidak nyaman jika mereka tidak berada pada posisi ini,

tanpa menghiraukan apakah hal ini sesuai dengan situasi yang ada.

Gejalanya yaitu

  1. Mempertunjukkan emosi yang berlebihan serta bereaksi berlebihan terhadap frustasi dan gangguan yang kurang berarti.
  2. Sangat memuja dirinya sendiri, seringkali menunjukkan tempertantrum jika mereka tidak segera merasa puas atas semua pemenuhan kebutuhan mereka.
  3. Mereka tidak mampu memperoleh keberhasilan hubungan karena mereka tidak perhatian, tidak mandiri, dan suka mengendalikan.

EPILEPSI

Pengertian

Epilepsi merupakan gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala – gejala yang datang dalam serangan – serangan, berulang – ulang yang disebabkan lepasnya muatan listrik abnormal sel – sel saraf otak, yang bersifat refersibel dengan berbagai etiologi.Sebelumnya epilepsy tidak dianggap sebagai suatu penyakit , akan tetapi disebabkan oleh sesuatu kutukan oleh roh jahat atau setan yang menimpa seseorang.

Etiologi

Istilah epilepsi dan serangan kejang sering digunakan secara bergantian. Serangan kejang merupakan akibat dari pelepasan elektrik yang tidak terkontroldan sifatnya mendadak, perubahan kesadaran yang berlangsung singkat, dan terjadi fenomena motorik atau sensorik.Penyebab utama dari serangan kejang dibagi 6 kategori yaitu

· Obat – obatan : keracunan, alcohol, overdosis, obat – obatan kejang.

· Imbalan kimia : hyperkalemia, hipoglikemia dan acidosis.

· Demam / fever : sering dialami oleh anak – anak.

· Patologi serebral : lesi kepala, trauma, infeksi, peningkatan tekanan intra cranial.

· Eklamsia : hipertensi prenatal / toxemia kehamilan.

· Idiopatik : penyebab tidak diketahui.

Patofisiologi

Secara umum epilepsy terjadi karena menurunnya potensial membrane sel syaraf akibat proses patologik dalam otak, gaya mekanik atau toksik yang selanjutnya menyebabkan terlepasnya muatan listrik dari sel syaraf tersebut.

Peranan asetilkolin sebagai zat yang merendahkan potensial membrane postsinaptik dalam hal terlepasnya muatan listrik yang sewaktu – waktu juga menyebabkan manifestasi klinisnya jaga sewaktu – waktu.

Pemeriksaan Penunjang

Elektroensefalografi ( EEG ) merupakan pemeriksaan penunjang yang informative yang dapat memastikan diagnostik epilepsi bila ditemukan pola EEg yang bersifat khas epileptic baik terekam saat serangan maupun diluar serangan.

Penatalaksanaan

Tujuan pengobatannya adalah mencegah timbulnya sawan tanpa mengganggu kapasitas fisik dan intelek pasien. Pengobatannya meliputi pengobatan psikososial dan medikamentosa.

Pengobatan Psikososial

Pasien diberikan penerangan bahwa dengan pengobatan yang optimal sebagian besar akan terbebas dari sawan. Pasien harus patuh dalam menjalani pengobatannya sehingga dapat bebas dari sawan dan dapat belajar, bekerja, dan bermasyarakat secara normal.

Pengobatan Medicamentosa

Dalam memberikan obat harus disesuaikan dengan jenis sawannya dan pengobatan dihentikan setelah sawan hilang selama minimal 2 – 3 tahun. Pengobatan dihentikan secara berangsur – angsur dengan menurunkan dosisnya.jenis obatnya yaitu CBZ = karbamazin, CLON = klonazepam, VAL = asam valproat, PHT = fenitoin, PB = fenobarbital.

Obat jika pasien mengalami jenis sawan sederhana; CBZ,PHT, PB, kompleks ; CBZ, VAL, PHT, PB, tonik – klonik umum sekarang; CBZ, VAL, PHT, PB, umum; CBZ,VAL, PHT, PB, tonik – klonik; CBZ,VAL, PHT, PB, mioklonik; CLON, VAL, absens / petitmal ; CLON,VAL.